Sosialisasi Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik (ITE)

Pasal 27 ayat 3 UU ITE menyebut melarang setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.

Alasannya, karena pasal 27 ayat 3 UU ITE yang biasa disebut dengan “pasal karet” sebagai undang-undang yang berbahaya. Terlebih lagi jika diterapkan oleh pihak-pihak yang tak paham soal dunia maya. Selain itu, pasal tersebut juga bisa digunakan dengan mudah untuk menjerat orang-orang demi membungkam kritik.

Menanggapi keinginan tersebut, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara secara tegas mengatakan pasal 27 ayat 3 di UU ITE tersebut tidak mungkin dihapuskan.

Jika pasal tersebut dihilangkan, efek jera terhadap para pelanggar hukum akan hilang, tegas Rudiantara di sela-sela acara “Dialog Kemerdekaan Berekspresi di Media Sosial Indonesia”, di Hotel Aryaduta Tugu Tani, Jakarta, Selasa (3/2).

Menurut Rudiantara, pasal tersebut sebenarnya memiliki peran besar dalam melindungi transaksi elektronik khususnya di dunia maya. Namun, hanya saja dalam penerapannya sering terjadi kesalahan. “Yang salah bukan pasal 27 ayat 3-nya, melainkan adalah penerapan dari pasal 27 ayat 3 tersebut,” ujarnya.

Akibat kesalahan penerapan tersebut, lanjut dia, sebanyak 74 orang telah menjadi “korban” dari UU ITE tersebut. “Saya turut prihatin atas kejadian yang menimpa teman-teman, terlepas siapa benar siapa salah. Saya melihat UU ITE secara makro, karenanya saya bilang UU ini tidak salah. Namun untuk kasus ini (korban UU ITE-red), I’m with you. Kalau enggak, saya enggak bakal ada di forum ini,” kata Rudiantara.

Revisi adalah salah satu solusi agar tidak lagi ada korban akibat salah penerapan pasal. Solusi kedua adalah melakukan pembicaraan dengan aparat penegak hukum agar lebih hati-hati dalam menerapkan pasal ini di UU ITE, tegasnya.

Sementara, Meutya Hafid, Anggota Komisi I DPR RI, menyebut pasal 27 ayat 3 UU ITE sangat berbahaya. Terlebih lagi jika diterapkan oleh pihak-pihak yang tak paham soal dunia maya. “Kalau saya pribadi tentu ingin dihapus saja. Karena sudah tergantikan dengan adanya KUHP,” kata Meutya yang juga hadir dalam acara tersebut.

Namun ia meragukan soal kemungkinan dihapusnya pasal ini dari Undang-undang, karena hal itu melibatkan banyak pihak yang juga punya kepentingan lain .

Read More

Cara Mengatasi Rasa Malas Belajar

Oleh Mirza Rizky Ranandra

Sesuatu hal yang baik pasti banyak ujian dalam melakukannya. Belajar merupakan perbuatan yang baik. Dengan belajar kita dapat menambah wawasan ilmu untuk bekal kita hidup baik di dunia maupun di akhirat. Dalam melaksanakan belajar tidak bisa dipungkiri terkadang kita merasa bosan, malas atau perasaan lain yang menyebabkan semangat belajar kita hilang dan penyebab anak sekolah menjadi malas belajar. Hal ini merupakan hal yang wajar, dan kebanyakan orang mengalaminya. Ketika kita merasa malas belajar, maka kita dapat melakukan hal-hal yang dapat memotivasi kita untuk menambah semangat belajar.

Motivasi dalam meningkatkan semangat belajar dibagi menjadi dua, yaitu motivasi internal dan motivasi eksternal. Motivasi internal merupakan motivasi yang berasal dari dalam diri individu sendiri. Motivasi ini memang lebih sulit ditumbuhkan dibanding motivasi eksternal, tetapi jika seseorang telah berhasil menumbuhkan motivasi internal dalam dirinya, maka kepercayaan diri akan terbentuk sehingga akan menimbulkan sikap positif dan sadar akan kebutuhan dirinya dalam belajar.

Sementara motivasi eksternal merupakan motivasi yang berasal dari luar diri individu yang mampu mempengaruhi diri individu. Motivasi eksternal bisa berasal daari lingkungan, sosial, penghargaan atau hukuman, teman, peran orang tua dalam mendidik anak serta masih banyak hal lain yang dapat mempengaruhi motivasi belajar seseorang. Setiap orang pasti lebih paham tentang dirinya masing-masing dengan apa yang bisa memotivasinya dalam meningkatkan semangat belajar. Kenali diri anda terlebih dahulu jika anda belum menemukan cara untuk mengatasi rasa malas anda dalam belajar atau anda dapat mencoba beberapa cara meningkatkan semangat belajar dalam diri anda :

Bergaul dengan orang bersemangat belajar
Teman sangat mempengaruhi diri kita, apalagi jika kita sering bersamanya maka apa yang menjadi sifatnya atau kebiasaannya mudah sekali kita tertular dengan sifat dan kebiasaannya. Teman yang malas dapat membuatmu terpengaruh dan ikut-ikutan malas, kadang kita malas belajar karena teman kita juga malas belajar. Sebaliknya teman yang bersemangat dalam belajar sangat mempengaruhi kita, sehingga melihatnya menjadikan kita ingin mencontohnya. Aura positif yang ditimbulkan dapat menular. Maka pandai-pandailah dalam memilih teman, karena teman sangat mempengaruhi kehidupan kita. Bahkan jika kita ingin mengenal orang lain yang belum kita kenal, kita bisa melihat dengan siapa dia berteman saja kita menjadi bisa mengenalnya.

Buat target yang ingin dicapai
Dalam usaha mencapai tujuan, target sangat penting untuk dituliskan, jangan hanya diinget karena kekuatan otak kita tidak mampu selalu mengingatnya. Tulis target yang harus kita capai pada kertas lalu tempelkan pada tempat-tempat yang sering kita melihatnya, seperti lemari, dinding kamar atau bisa juga ditulis di buku agenda atau diarimu. Dengan menulis target yang akan kita capai ini mempunyai kekuatan yang besar dalam mencapai keberhasilan. Menurut Mario Teguh seorang motivator Indonesia, buatlah anda seolah-olah seperti dikejar oleh seekor anjang. Seseorang yang dikejar oleh anjing maka dia akan berlari sekuat tenaga tanpa memperdulikan bahaya yang rintangan yang ada, dia akan fokus agar dapat selamat dari kejaran anjing tersebut. Jika anda dalam belajar juga seperti hal tersebut maka target akan cepat tercapai.

Menunda kesenangan
Tanamkanlah dalam pikiran anda bahwa sesuatu yang diawali dengan perjuangan pasti akan diakhiri dengan kesenangan dan kebahagiaan. Maka tunda terlebih dahulu kesenangan anda, tetapi ganti dengan melakuakan perjuangan belajar menuntut ilmu, walaupun memang rasanya pahit, tetapi jika kita telah menjalaninya maka kita akan merasakan kenikmatannya. Belajar itu menyenangkan karena kita akan bisa mengerti apapun yang ingin kita katahui. Menunda kesenangan terlebih dahulu demi kebahagiaann panjang selanjutnya tidak ada ruginya, daripada sekarang kita bersenang-senang tetapi kita tidak tahu bagaimana nasib kita dimasa depan tanpa mempersiapkannya sekarang, jadi berjuanglah terlebih dahulu dengan semangat belajar.

Buktikan pada orang-orang bahwa anda pintar
Sebenarnya setiap orang telah diberi kekuatan otak untuk berpikir yang tidak berbeda jauh antara satu orang dengan orang lainnya. Yang menentukan kita pintar atau tidak bukan 100% kekuatan otak tetapi kemauan. Seorang yang memliki kemauan yang tinggi akan mempunyai motivasi tinggi dalam mencapai target. Buktikan kepada orang-orang bahwa anda juga termasuk orang yang mempunyai kemauan yang tinggi, dengan bermodal tersebut maka diri anda akan termotivasi untuk semangat belajar. Semangat belajar yang tinggi akan menjadikan anda lebih pintar. Orang yang pintar sering terkalahkan dengan orang yang rajin dan mempunyai kemauan tinggi. Jadi buktikan bahwa andapun bisa menjadi orang pintar.

Atur waktu belajar
Atur waktu anda dalam segala kegiatan yang akan lakukan. Mengatur waktu akan menjadikan diri anda berlatih disiplin serta tidak bertingkah semaunya sendiri atau sesuai kehendak hati. Mungkin ketika anda sedang patah hati, padahal anda besok akan ujian maka anda tidak belajar. Hal ini hal yang harus dihindari karena belajar tetap harus berjalan. Maka dari itu buatlah jadwal agar anda tidak terbawa emosi dengan perasaan hati anda. Jika anda melihat jadwal anda belajar maka lakukanlah, tetapi bukan berati anda harus benar-benar ketat dengan diri anda sendiri. Jika anda sakit anda bisa beristirahat terlebih dahulu. Jika jadwal anda bermain ya silahkan gunakan waktunya untuk bermain. Dengan mengatur waktu belajar maka anda akan fokus dengan belajar anda, karena waktu bermain, belajar atau yang lain telah terpisah-pisah dengan baik.

Fokus lima menit
Hal yang tersulit dalam melakukan sesuatu yaitu untuk memulianya. Kadang kita berpikir melakukan hal lain lebih nyaman dan asyik, tetapi sebenarnya ini adalah pikiran otak yang dapat disiasati. Untuk menghindari sulit memulai belajar maka bayangkan terlebih dahulu bahwa anda akan belajar hanya 5 menit saja, kemudian setelah itu akan berhenti. Dengan demikian maka otak anda akan lebih tertarik untuk belajar karena hanya sebentar. Tetapi setalah anda melakukan belajar dalam 5 menit, maka otak anda akan merasakan suatu kenyamanan sehingga andapun akan enggan untuk memulai sesuatu yang lain lagi. Tetapi dengan catatan bahwa dalam lima menit pertama ini, anda harus benar-benar fokus dengan belajar anda.

Stop atau strat di bagian menarik
Saat anda sedang belajar tetapi anda ingin melakukan sesuatu hal misalnya makan atau minum, maka berhentilah saat anda sedang belajar di bagian yang menarik. Hal ini akan memotivasi diri anda untuk memulai belajar lagi setalah anda makan atau minum, karena pikiran anda akan merasa penasaran dengan kelanjutannya. Ini merupakan trik yang bisa anda coba.

Singkirkan atau menjauh dari gangguan
Banyak gangguan yang akan membuat diri anda merasa tergoda untuk beralih dari belajar dan melakukan antifitas lain, misal menonton TV, tiduran, bermain game, atau sms pacar. Maka sebelum mulai belajar singkirkan hal-hal tersebut atau anda memilih tempat belajar yang terhindar dari berbagai gangguan tersebut. Hal ini akan membuat belajar anda menjadi lebih fokus.

Buat sebuah reward atau hukuman
Reward atau hukuman akan memicu semangat belajar anda sehingga anda akan berpikir jika tidak mencapai terget maka anda akan mendapat hukuman. Hal ini akan seperti memaksa diri anda untuk belajar, tetapi tidak masalah karena paksaan akan menjadi kebiasaan jika dilakukan secara terus-menerus dalam waktu minimal 40 hari. Jika anda tidak percaya anda bisa mencobanya sendiri.

Menonton film motivasi atau membaca novel motivasi
Kadang ada juga orang yang lebih termotivasi ketika membaca novel atau menonton film dibanding mendapat nasehat orang lain atau melihat keberhasilan orang lain, hal ini karena setiap orang mempunyai tingkat emosional yang berbeda. Anda dapat mencoba untuk menonton film atau membaca novel motivasi agar semangat belajar anda bisa semakin meningkat. Novel sekarang telah banyak sehingga anda dapat memilihnya yang seseuai dengan diri anda dapat meningkatkan semangat anda dalam belajar, begitupun dengan film.

Menanamkan kemauan atau niat yang tinggi untuk belajar
Jika jiwa kita telah tertanam kemauan dan niat yang tinggi maka belajar akan menjadi suatu aktifitas yang menyenangkan sehingga tidak ada lagi beban, tetapi yang ada hanya kenikmatan dan kenyamanan karena mendapat banyak informasi yang sebelumnya belum kita ketahui.

Menempelkan kata-kata motivasi di dinding kamar
Kata-kata motivasi jika ditempel di dinding kamar, maka akan selalu terlihat oleh kita, sehingga ketika kita sedang merasa malas maka kita akan melihatnya dan tergugah kembali semangat kita. Hal tersebut seperti menjadi pengingat diri kita sehingga ketika kita akan malas menjadi semangat kembali.

Menggunakan teknik belajar yang efektif
Anda harus pintar dalam menggunakan teknik belajar karena akan mempengaruhi otak kita dalam bekerja menyerap informasi dan ilmu pengetahuan. Belajar lebih efektif dengan teknik 3 x 1 jam lebih baik dibanding dengan 1 x 3 jam. Jadi lebih baik kita belajar 3 kali dengan durasi sekali belajar 1 jam dibanding dengan belajar 1 kali dengan durasi langsung 3 jam.

Pelajari teknik membaca cepat
Dengan pintar teknik membaca cepat maka informasi dan ilmu pengetahuan akan dengan cepat kita peroleh, apalagi di zaman yang era modern globalisasi ini, kemampuan membaca cepat akan semakin mensukseskan anda dalam meraih keberhasilan.

Pelajari teknik mengingat dengan kata kunci atau akronim
Otak ketika mengingat suatu hal akan lebih tajam jika hal yang pendek. Maka buatlah kata kunci atau akronim untuk membantu otak anda dalam mengingat pelajaran, sehingga daya ingat dan konsentrasi anda akan meningkat. Hhal ini juga dapat memacu potensi belajar anda serta ilmunya tidak mudah lupa tau hilang, sampai tua nanti anda dapat teringat karena memang berbentuk akronim.

 

Read More

Matematika itu Mudah dan Menyenangkan

Oleh Mirza Rizky Ranandra

Matematika sering dianggap pelajaran yang susah dan menyeramkan, padahal matematika itu bisa menjadi sangat menyenangkan jika kita tau caranya. Sampai saat ini, saya selalu merasa mengerjakan matematika seperti bermain puzzle. Kok bisa? Berikut ini adalah tips dan triknya cara mudah dalam belajar matematika.

  1. Cintai Matematika
  2. Pahami konsep dasarnya
  3. Rajin mengerjakan latihan soal
  4. Cari kegunaan dari setiap babnya
  5. Jangan menyerah dan perbanyak berdoa
Read More

Mudahnya Membuat Karya Puisi

oleh Mirza Rizky Ranandra

  • Menentukan tema

Tema adalah suatu gagasan yang kamu tuangkan dalam sebuah bentuk puisi. Misalkan puisi bertemakan tentang lingkungan masyarakat, keindahan alam, kasih sayang dan sebagainya.

  • Suasana Puisi

Suasana puisi maksudnya suatu gambaran tentang perasaan seseorang dalam membuat puisi. Jika sedang bahagia bahasa yang digunakan harulah romantis, lembut, dan indah.

Begitu juga sebaliknya jika suasana yang dirasakan sedang sedih, bimbang, penggunaan bahasa dalam membuat puisi menggunakan bahasa yang sinis dan keras.

  • Mendaftar kata-kata yang sesuai

Dalam puisi haruslah mendaftar atau menggunakan kata-kata yang diwarnai dengan ungkapan yang bermakna. Misalnya Ibu, luasnya semesta tak seluas rasaku padamu.

  • Memilih diksi

Diksi adalah pemilihan kata. Kata-kata dalam setiap puisi haruslah cenderung menggunakan kata-kata yang memberikan nilai rasa tertentu.

  • Menulis Puisi

Setelah keempat langkah diatas telah dilakukan, maka kamu sudah bisa membuat sebuah puisi. Yang dimulai dari inspirasi yang telah kamu dapat.

***

Membaca puisi juga harus dengan penuh penjiwaan, pelafalan harus benar, intonasi, suara, ekspresi melalui bahasa tubuh ataupun gerakan tubuh harus digunakan. Agar pesan yang disampaikan dalam setiap katanya dapat tersampaikan dengan ideal. Pendengar atau orang yang menyimakpun akan menikmati puisi yang dibacakan.

Dengan demikian, puisi adalah suatu ungkapan yang dirasakan dalam hati dan dituangkan dalam sebuah tulisan. Penulisan puisi haruslah menggunakan kata-kata yang sesuai.

Jika sedang bahagia, gunakanlah kata-kata dan bahasa yang menggambarkan tentang kebagiaan. Dalam penulisan puisi haruslah menggunakan langkah-langkah yang telah tertera diatas.

Pembacaannya pun harus menggunakan intonasi, ekspresi dan pelafalan yang baik dan benar. Agar pendengar dapat menikmati dan memahami tujuan dari puisi tersebut.

Read More

Mewujudkan Sekolah Ramah Anak

[ARTIKEL OPINI] Mewujudkan Sekolah Ramah Anak

Oleh Mirza Rizky Ranandra

Sekolah ramah anak ini bisa terwujud apabila pemangku kepentingan pendidikan bahu-membahu melakukan penguatan lingkungan sekolah dan lingkungan kelas yang dapat memengaruhi rasa aman serta nyaman. Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 mengamanatkan, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar serta proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,bangsa dan negara.

Suasana yang diharapkan adalah suasana yang mendukung terjadinya proses pendidikan yang bisa mengembangkan potensi peserta didik mampu mengembangkan minat, bakat dan kemampuan anak, serta mempersiapkan anak untuk bertanggung jawab kepada kehidupan yang toleran, saling menghormati, dan bekerja sama untuk kemajuan serta semangat perdamaian.

Kenyataannya suasana belajar saat ini belum sesuai harapan. Perlindungan Perempuan dan Anak Indonesia (PPAI) mencatat 84% siswa pernah mengalami kekerasan di sekolah, 75% siswa mengakui pernah melakukan kekerasan di sekolah, 45% siswa laki-laki menyebutkan bahwa guru atau petugas sekolah  yang melakukan kekerasan, 22% siswa perempuan menyebutkan bahwa guru atau petugas sekolah yang melakukan kekerasan, 40% siswa usia 13 – 15 tahun pernah mengalami kekerasan dari teman sebayanya, 50% anak pernah mengalami perisakan di sekolah.

Para pemangku kepentingan pendidikan seyoginya perlu bersama-sama membangun kesadaran akan pentingnya proses pendidikan yang ramah dan mendukung berkembangnya potensi anak sehingga menjadi insan yang unggul dan andal.

Hal ini sesuai dengan amanat Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 82 Tahun 2015 tetang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan. Untuk itu sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang menjadi sumber inspirasi bagi anak dalam mengembangkan potensinya secara optimal di lingkungan pendidikan yang ramah pada penumbuhkembangan kreativitas.

Penyelenggaraan sekolah ramah anak didasarkan pada prinsip-prinsip: 1) tanpa kekerasan; 2) nondiskriminasi yaitu menjamin kesempatan setiap anak dan warga sekolah untuk menikmati hak anak untuk pendidikan tanpa diskriminasi berdasarkan disabilitas, gender, suku bangsa, agama, dan latar belakang orangtua; 3) kepentingan terbaik bagi anak; 4) hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan yaitu menciptakan lingkugan yang menghormati martabat anak dan menjamin perkembangan holistik dan terintegrasi setiap anak; 5) penghormatan terhadap pandangan anak; dan 6) pengelolaan yang baik yaitu menjamin transparansi, akuntabilitas, partisipasi, keterbukaan informasi, dan supremasi hukum.

Sekolah ramah anak ini bisa terwujud apabila pemangku kepentingan pendidikan bahu-membahu melakukan penguatan lingkungan sekolah dan lingkungan kelas yang dapat memengaruhi rasa aman serta nyaman.

Peserta didik dan pendidik membangun suasana pembelajaran yang kondusif, menyenangkan, menantang terwujudnya suasana belajar yang memotivasi, menginspirasi peserta didik untuk belajar sepanjang hayat.

Mari kita wujudkan sekolah sebagai tempat belajar, bermain, berteman dan berinteraksi, dengan terbangunnya suasana akademik di sekolah sehingga sekolah menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk para juara.

 

Read More

Pendidikan Karakter Merupakan Kebutuhan Mendesak

Penulis: Mirza rizky ranandra

Data tentang penyalahgunaan narkoba, prilaku seks bebas di kalangan remaja, meningkatnya kasus-kasus ketidak jujuran dan kekerasan remaja,   KDRT dan  tawuran menjadi dasar betapapentingnya pendidikan karakter

Tahun 2010  merupakan awal  pencanangan  pendidikan karakter bangsa di negara kita, tepatnya pada tanggal 14 Januari 2010,  pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional mencanangkan program “Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa” sebagai gerakan nasional.  Setelah dicanangkan program ini,  beberapa Direktorat Jenderal dengan Direktorat-direktorat yang ada segera menindaklanjuti dengan menyusun rambu-rambu penerapan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Bahkan kementerian-kementerian lainpun juga diberi tugas untuk mengembangkan dan melaksanakan pendidikan karakter di lingkungannya. Di lingkungan Kementerian Pendidikan telah berhasil disusun “Disain Induk Pendidikan Karakter”. Kemudian Direktorat PSMP  dan PSMA, Puskur juga telah membuat rancangan  pelaksanaan dengan mengembangkan silabus yang dikaitkan dengan nilai-nilai karakter bangsa.

Pembicaraan pendidikan karakter terjadi di mana-mana. Selama tahun 2010 sampai sekarang, hampir setiap pertemuan ilmiah, seperti diskusi, sarasehan, dan seminar, baik seminar regional,  nasional maupun internasional mengambil tema tentang pendidikan karakter. Nampaknya program pendidikan karakter ini masih akan menjadi main stream di masa-masa berikutnya. Hal ini menunjukkan betapa urgensinya  mengenai pendidikan karakter bagi bangsa ini, sehingga sangat tepat pemerintah melalui  Kementerian Pendidikan Nasional mencanangkan pendidikan budaya dan karakter bangsa. Mengapa perlu pendidikan karakter, apa dan bagaimana pendidikan karakter, bagaimana peran pemerintah dan masyarakat,  khususnya dunia pendidikan dalam pengembangan pendidikan karakter?

Presiden SBY dalam mengawali kerjanya sebagai Kepala Pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II mengangkat isu tentang pendidikan karakter bangsa sebagai pilar pembangunan. Selanjutnya Presiden menyatakan bahwa kita harus menjaga jati diri bangsa Indonesia. Hal yang membedakan bangsa kita dengan bangsa lain di dunia adalah budaya kita, way of life dan ke-Indonesiaan kita. Ada identitas dan kepribadian yang membuat bangsa Indonesia khas, unggul, dan tidak mudah goyah.    Budaya ke-Indonesiaan kita tercermin dalam sikap pluralisme atau kebhinekaan, kekeluargaan, kesatuan, toleransi, sikap moderat,  keterbukaan, dan kemanusiaan.  Hal-hal inilah yang harus kita jaga, kita pupuk,  kita suburkan di hati sanubari kita dan di hati anak-anak kita.

Pernyataan presiden tersebut mengingatkan kita semua kepada pesan Bung Karno, Presiden pertama RI.  Bung Karno yang  menggelorakan tema  besar “nation and character building”  pernah berpesan kepada kita bangsa Indonesia, bahwa tugas berat untuk mengisi kemerdekaan adalah membangun karakter bangsa. Pernyataan Bung Karno ini menunjukkan pentingnya pendidikan dan pembangunan karakter demi tegak dan kokohnya jati diri bangsa agar mampu bersaing di dunia global.

Pandangan dan pernyataan dari dua pemimpin itu memberikan gambaran bahwa pendidikan karakter bangsa itu merupakan hal sangat fundamental dari kehidupanbermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu sudah selayaknya kalau pendidikan atau pembangunan karakter bangsa ini secara konstitusional mendapatkan landasan yang kuat. Negara dapat mengitervensi langsung sistem dan struktur dalam lembaga pendidikan untuk menanamkan pembentukan karakter dalam diri siswa sesuai semangat yang ingin diperjuangkan, yaitu pembentukan individu yang memiliki karakter kebangsaan berdasakan Pancasila dan UUD 1945.

Bukan hanya sekedar keinginan pemerintah untuk mewujudkan pendidikan karakter ini, tetapi merupakan tuntutan mendesak bagi perkembangan generasi muda sekarang ini. Hal ini dapat dilihat data-data yang dipublikasikan betapa hancurnya moral generasi muda bangsa yang memerlukan perhatian semua pihak. Diantaranya dapat dilihat pada data tentang penyalahgunaan narkoba, prilaku seks bebas di kalangan remaja, meningkatnya kasus-kasus ketidak jujuran dan kekerasan remaja, KDRT, tawuran dan kasus-kasus amoral lainnya yang memprihatinkan kita.

Penelitian Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) pada 2007 lalu menemukan, perilaku seks bebas bukanlah sesuatu yang aneh dalam kehidupan remaja Indonesia.Meningkatnya perilaku seksual pranikah di kalangan remaja diperkuat oleh data Kementerian Kesehatan 2009 dari penelitian di empat kota. Sebanyak 35,9 persen remaja punya teman yang sudah pernah melakukan hubungan seksual sebelum  menikahBahkan, 6,9 persen responden telah melakukan hubungan seksual  pranikah. Keempat kota itu adalah Jakarta Pusat, Medan, Bandung, dan Surabaya. Data ini hasil penelitian  Komnas Perlindungan Anak. Dilaporkan selama Maret- April 2009 dari hasil penelitian tersebut 18 siswi SMP di Jakarta Barat menyambi sebagai PSK selepas sekolah. Di Karawang ditemukan 113 siswi berusia 15-18 tahun menjadi PSK.  Keadaan demikian dilaporkan karena beberapa faktor diantaranya karena broken home, lemahnya kontrol orang tua, hedonisme, konsumerisme. Dunia seks bagi kalangan remaja masih misterius dan ditutup-tutupi. Bagi mereka yang tidak mengerti akan salah melangkah dan terjerumus dalam seks bebas.  Data kehamilan remaja di Indonesia menunjukkan hamil di luar nikah karena diperkosa sebanyak 3,2 %; karena sama-sama mau sebanyak 12,9 % dan tidak terduga sebanyak 45 %. Seks bebas sendiri mencapai 22,6 %.

Hal ini juga digambarkan penderita AIDS dam HIV di Indonesia bertambah terus akibat penyimpangan perilaku seksual.  Menko Kesra (2006) menyatakan  bahwa tidak ada satu provinsipun di Indonesia yang terbebas dari HIV/AIDS. Jumlah penderita  HIV/AIDS sampai Maret 2005 mencapai 10.156 orang, perkembangan menunjukan 10 % lebih perbulan pada tahun 2005.  Juni 2005 sebanyak 7.090 orang, meningkat pada bulan Setember menjadi 8.250 orang, Desember 9.565 orang dan Maret 2006 menjadi 10.156. Bayangkan saja kalau kondisi ini tidak berubah pada saat ini bisa dua atau tiga kali lipat penderita HIV/AIDS. Pada umumnya mereka berusia muda, lebih dari separuhnya berusia 20-29 tahun. Dengan penularan 50.1% melalui jarum suntik. Di AS dilaporkan pergaulan bebas (free sex) terjadi 8:10 remaja putra telah melakukan seks bebas dan 7:10 untuk remaja putri. Dilaporkan pula provinsi terbanyak adalah: Jakarta, Papua, Jatim, Jabar, Bali, Riau, Sulsel, Sumut dan Jateng. Data pendetita HIV pada tahun 1993 menurut WHO dilaporkan sebanyak 14 juta orang dan akhir abad 20  mencapai 40 juta yang terkena HIV. Kasus HIV/AIDS di Indonesia dilaporkan sampai  September 2014 total penderita   HIV sebanyak 150.285  orang dan       AIDS  sebanyak    55.799 orang, padahal pada tahun 2010 penderita HIV hanya  21.031 dan AIDS sebanyak 7.312 orang. Semua  provinsi telah terjangkit HIV/AIDS, DKI merupakan provinsi yang tertinggi (HIV = 32.782 dan AIDS = 7.477),  kedua  Papua (HIV = 16.051 dan AIDS = 10.184),  ketiga Jawa Timur (HIV = 19.249 dan AIDS = 8.976), keempat Jawa Barat (HIV = 13.507  dan AIDS =  4.191) dan kelima Bali (HIV = 9.637 dan AIDS = 4.261).

Jumlah penyalahgunaan narkoba di Indonesia mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Hasil penelitian tahun 2008 jumlah penyalahguna narkoba mencapai 3,3 juta orang. Kemudian tahun 2011 menjadi 3,8 juta orang dan di 2013 mencapai lebih dari 4 juta orang, data terakhir 2015 pengguna narkoba di Indonesia mencapai 5 jutaan.

 

Penelitian yang dilakukan Asian Harm Reduction Network (AHRN) terhadap remaja pengguna narkoba menemukan bahwa mereka mengkonsumsi narkoba pada umur 9 tahun. “Kebanyakan memulai dengan mengkonsumsi boti (obat tidur) seperti diazepam atau valium. Sisanya memulai dengan konsumsi ganja,” Kepala Proyek Penelitian AHRN dalam presentasi  hasil  penelitiannya melaporkan adanya peningkatan penggunaan narkoba di usia yang semakin dini. Dari 500 lebih responden remaja pengguna narkoba, termasuk pelajar dan mahasiswa, yang diwawancarai, separuhnya atau 50 persen memulai penggunaan narkoba pada umur 9-15 tahun.

Tawaruan remaja antar kampung ataupun pelajar antar sekolah menjadi tontonan kita  setiap hari menunjukan sikap brutal dan emosional remaja kita semakin  menghawatirkan. Pada tahun 1996 terjadi tawuran di Jakarta 150 kali, meninggal 19 orang luka 26 orang, tahun 1997 terjadi 121 kali tawuran dengan jumlah yang meninggal 15 orang dan luka 24 orang. Pada tahun 1998 meningkat hampir dua kali lipat yang jumlahnya mencapai 230 kali dengan  jumlah meninggal 15 dan luka 34. Pada tahun 1999 menurun menjadi 64 kali, tetapi jumlah yang meninggal hanya turun sedikit yaitu sebanyak  12 orang dan yang luka meningkat menjadi 36 orang. Setidaknya 17 remaja tewas dalam tawuran di wilayah Jabodetabek sejak 1 Januari 2012 hingga 26 September 2012. “Jumlahnya meningkat dari 2011 yang sebesar 12 orang tewas,” ujar Ketua Divisi Sosialisasi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Asrorun Ni’am, di Jakarta, Rabu, 27 September 2012. Pada tahun 2010 di Jabodetabek  terjadi tawuran  102 kasus, Luka ringan 54, luka berat 31, meninggal dunia 17 orang, selanjutnya tahun 2011 ada 96 kasus tawuran, luka ringan 62, luka berat 22, meninggal dunia 12 orang dan pada tahun 2012 terdapat 103 kasus, luka ringan 48, luka berat 39, meninggal dunia 17.

Secara umum kerusakan moral ini terjadi dimana-mana seperti yang dikemukakan Lickona seorang profesor pendidikan dari Cortland University mengungkapkan bahwa ada sepuluh tanda-tanda jaman yang harus diwaspadai karena jika tanda-tanda ini sudah ada, maka itu berarti bahwa sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran. Tanda-tanda yang dimaksud adalah :

  1. Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja;
  2. Penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk;
  3. Pengaruh peer-group yang kuat dalam tindak kekerasan;
  4. Meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas;
  5. Semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk;
  6. Menurunnya etos kerja;
  7. Memakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru;
  8. Rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga Negara;
  9. Membudayanya ketidakjujuran;

Adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama.

Pembukaan UUD 1945 dan Pancasila telah memberikan landasan yang begitu mendasar, kokoh dan komprehensif. Selanjutnya secara operasional di dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang  Nasional tahun 2005-2025. ditegaskan bahwa misi pertama pembangunan  nasional adalah terwujudnya  karakter bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, dan bermoral berdasarkan Pancasila, yang dicirikan dengan watak dan perilaku manusia dan masyarakat Indonesia yang beragam, beriman dan bertakwa kepada tuhan YME, berbudi luhur, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, dan berorientasi ipteks.

Sebenar pendidikan karakter bukan hal yang baru dalam dunia pendidikan, karena pada hakekatnya suatu pendidikan adalah membentuk karakter manusia agar mampu menjadi orang dewasa yang dapat berkarya dan berprilaku sesuai tuntutan jamannya untuk menuju kesejahteraan hidup.  Hal ini terlihat dari konsep pendidikan dari para perintis pendidikan bangsa ini seperti  halnya Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.   Hal ini sejalan pula dengan definisi pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pendidikan berasal dari kata dasar didik (mendidik), yaitu : memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan mempunyai pengertian : proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan, proses perbuatan, cara mendidik.

Pendidikan karakter inipun sudah menjadi perhatian para tokoh dunia, seperti Mahatma Gandhi memperingatkan tentang salah satu tujuh dosa fatal, yaitu “education without character” (pendidikan tanpa karakter).Martin Luther King  sebagaimana dikutif Lickona, berkata: “Intelligence plus character….that is the goal of true education” (Kecerdasan plus karakter….itu adalah tujuan akhir dari pendidikan sebenarnya).Juga Theodore Roosevelt sebagaimana dikutif Lickona, mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman mara-bahaya kepada masyarakat).

Namun sayang dalam pelaksanaan pendidikan di lapangan, rumusan tujuan pendidikan nasional yang begitu komprehensip itu tidak sepenuhnya dipedomani. Secara formal sebenarnya telah muncul kesadaran bahwa misi utama pendidikan  tidak sekedar membuat peserta didik pintar otaknya, tetapi juga berkarakter baik. Tetapi dalam kenyataannya penyelenggaraan pendidikan kita lebih pragmatis dan masih tetap menekankan pada penguasaan materi ajar.  Di lembaga pendidikan formal, penyelenggaraan pendidikan lebih banyak sebagai proses pengembangan ranah kognitif, dan membangun  kecerdasan intelektual, sehingga pendidikan kita lebih bersifat intelektualistik. Sementara dari segi kualitas, pendidikan kita masih juga sering dipertanyakan. Menurut Anhar Gonggong  bahwa sampai sekarang “bentuk karakter” sebagai bangsa merdeka belum juga kita temukan, Bahkan dalam periode reformasi ini, ditenggarai oleh sementara pihak bahwa karakter bangsa negara kita makin terpuruk.

Sekolah sebagai ujung tombak dalam proses pembentukan karakter, disamping keluarga dan masyarakat. Maka sekolah harus  mengambil peranannya dalam pendidikan karakter ini. Peranan sekolah ini tak diragukan lagi sebagai lembaga yang membentuk karakter bangsa.  Upaya sekolah dalam membentuk karakter bangsa ini harus berkerja sama dengan stakeholders. Mulai dari pemerintah sebagai pemangku kebijaksanaan, masyarakat  baik sebagai objek ataupun subjek  dalam pendidikan karakter, maupun lembaga-lembaga lain yang terkait dan bertangung jawab atas perkembangan karakter ini.    Proses pendidikan yang begitu komprehensif, sebagai rancangan rekayasa pembentukan karakter yang baik, dengan melibatkan semua komponen yang bertanggung jawab terhadap penyelenggarakan pendidikan. Dengan format yang demikian itu, maka pengembangan pendidikan karakter telah mendorong penyelenggaraan pendidikan yang sesungguhnya, sebagaimana  diamanatkan oleh UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003. Namun pelaksanaannya belum menunjukan hasil yang memuaskan seperti dikemukakan Jimly Asshiddiqie bahwa pendidikan kita tidak berhasil membentuk sikap dan karakter, dan tidak juga membangun kapasitas kemampuan teknis untuk melakukan serta menerapkan pengetahuan dan sikap-sikap yang dimiliki dalam praktik.

Sekolah sebagai garda terdepan dalam pendidikan karakter bangsa harus mempunyai program pendidikan karakter yang dipadukan dalam kegiatan sekolah baik melalui kurikuler, maupun ekstrakurikuler. Program adalah suatu rencana yang melibatkan berbagai unit  yang berisi kebijakan dan rangkaian kegiatan yang harus dilakukan dalam kurun waktu tertentu.  Program pendidikan karakter adalah suatu perencaan  sekolah yang dibuat dalam upaya pengembangan karakter  bagi peserta didik melalui kegiatan kurikuler, maupun ekstrakurikuler.

DAFTAR PUSTAKA

Koesuma A., Doni.  Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak  di Zaman Global.  Jakarta: Grasindo,2007.

Clarke, Alan dan Ruth Dawson. Evaluation Researsch at Introduce to Principles Methode and Prantice. London: Sage Publication Ltd., 1999.

Asshiddiqie, Jimly.  “Membangun Karakter Bangsa.” Makalah, Seminar Membangun Karakter Manusia Indonesia. Jakarta: PPS UNJ, 26 November 2010.

Gonggong, Anhar.  “Karakter Bangsa Majemuk Indonesia.”  Makalah, Seminar Membangun Karakter Manusia Indonesia. Jakarta: PPS UNJ.  26 November 2010.

Dewantara, Ki Hadjar. Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 1977.

Pusat Kurikulum dan  Perbukuan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Nasional. Panduan: Pelaksanaan Pendidikan Karakter. Jakarta: Kementrian Pendidikan Nasional, Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum dan  Perbukuan, 2011.

Lickona, Thomas. Education for Charater: How Our Schools  Can Teach Respect and Responsibility.  New York: Batam Books, 1998.

Wartawan Tempo. “Setahun 17 Pelajar Tewas Karena Tawuran.” http://www. tempo.com (diakses 27 September 2012).

Wartawan Kompas.  “Remaja Jakarta Mengkonsumsi Narkoba pada Umur 9 Tahun.” Harian Kompas, 17 Pebruari 2005.

Wartawan Pos Kota (Aby/Dms). “Perilaku Seksual Remaja Kian Mengkhawatirkan.” Poskota, 6 Nopember 2012.

 

Saputra, Ari.  “22,6 % Remaja Indonesia Penganut Seks Bebas.” http://www.detik.com  (diakses 31 Mei 2007).

Direktorat Jenderal PP & PL Kemenkes RI. “Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia.”  http://spiritia.or.id/Stats/StatCurr.pdf (diakses  5 Desember 2014).

Anggriawan, Fiddy.  “BNN  Khawatir  dengan  Jumlah  Pengguna  Narkoba  di  Indonesia.” http://www.Okezone.com (Diakses 23 Januari 2014).

Read More